Aku menghapus akun fb dan ig dan tidak ada hal ajaib terjadi

Aku menghapus akun fb dan ig dan tidak ada hal ajaib terjadi

Jauh hari sebelum menghapus akun facebook dan instagram, ada hal-hal yang mengganggu pikiranku. Kenapa aku melakukan ini?. Pertanyaan itu muncul ketika aku membuka sosial media. Update status, upload foto, untuk semua orang yang bahkan aku gak tahu, aku gak kenal, yang bahkan gak kontribusi apapun ke hidup aku.

Demi apa? demi siapa? apa yang aku harapkan? berharap komentar? berharap like? berharap perhatian? perhatian siapa?

Jika ada yang komentar, jika ada yang like, lalu apa? apa yang aku dapatkan? Apakah aku bahagia? kalau bahagia, sebahagia apa? Kurang bahagiakah hidup aku?

Jika ada yang komentar, jika ada yang like, lalu apa? apa yang aku dapatkan? Apakah aku mendapatkan perhatian? Secaper itukah aku?

Ketika aku membuka sosial media, apa yang terjadi? scroll scroll scroll, close. Buka lagi, scroll scroll scroll, close. Dan seterusnya. Apa manfaatnya? gak ada. Kurang kerjaan banget ya, 1/2 jam, 1 jam, habis untuk scroll scroll.

APA HAL NYATA YANG AKU DAPATKAN SETELAH SEMUA ITU? nothing

Kalau aku tidak melakukan semua hal itu, apakah akan ada hal buruk yang menimpaku? apakah aku akan mati? apakah aku akan tidak bahagia?

Sampai tiba kasus Cambridge Analityca. Saat itu tekadku bulat untuk menghapus akun facebook dan instagram.

Setelah sekian lama, tidak ada hal ajaib terjadi. TENTU SAJA! aku menghapus akun bukan untuk mendapatkan keajaiban. Dan tentu, ada banyak yang terjadi. Hal paling sederhana adalah ketika aku pergi ke suatu tempat, aku benar-benar menikmati tempat itu! Merasakan semua keadaan sekitar! Tidak ada lagi gerakan bawah sadar untuk jepret-jepret demi sosial media. Aku benar-benar menikmatinya! Dalam hati bergumam “Benar juga ya, dulu aku melakukan ini itu demi sosial media. Demi apa coba?” Hahaha.

Tentu saja facebook dan instagram adalah permulaan, target berikutnya adalah whatsapp.

Aku menulis ini bukan untuk mengajak kalian menghapus sosial media. Aku juga tidak membenci kalian pemakainya. Tapi mari renungkan bersama “Why do we do that?”

If You’re Not Paying for It; You’re the Product – QOTD